Terkait Dugaan Suap untuk Nurdin Abudullah, KPK Panggil 3 Saksi Baru dari Swasta

- 30 Maret 2021, 14:26 WIB
Nurdin Abdullah diperiksa penyidik KPK sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap proyek infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Nurdin Abdullah diperiksa penyidik KPK sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap proyek infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. /ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

HALLO BOGOR - Pada Senin ini, Senin, 29 Maret 2021, KPK memanggil tiga orang saksi dalam penyidikan kasus dugaan suap yang melibatkan Gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah (NA).

Gubernur Sulsel nonaktif tersebut, diduga menerima suap dalam kasus perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) tahun anggaran 2020-2021.

Sebelumnya, dalam perkara Nurdin Abdullah, diduga telah menerima total Rp5,4 miliar dengan rincian pada 26 Februari 2021 menerima Rp2 miliar yang diserahkan melalui Edy Rahmat (ER) atau orang kepercayaan Nurdin dan Agung Sucipto (AS).

Baca Juga: Lima Berita Terpopuler, dari RJ Lino yang Ditahan KPK hingga Cara Dapatkan Beasiswa KIP Kuliah

Saat ini, Edy selaku Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi Sulsel dan Agung selaku kontraktor/Direktur PT Agung Perdana Bulukumba (APB) telah ditetapkan sebagai tersangka.

Baca Juga: Akhirnya RJ Lino Ditahan KPK Setelah 6 Tahun Jadi Tersangka, Begini Penjelasannya

Tidak sampai disini, Nurdin juga diduga menerima uang dari kontraktor lain antara lain pada akhir 2020, sebesar Rp200 juta.

Baca Juga: Artis Cita Citata Dipanggil Penyidik KPK, Terkait Kasus Suap Mantan Mensos Juliari Batubara

Pada pertengahan Februari 2021 melalui ajudannya bernama Samsul Bahri menerima uang Rp1 miliar dan pada awal Februari 2021 melalui Samsul Bahri menerima uang Rp2,2 miliar.

Atas perbuatannya, Nurdin dan Edy sebagai penerima disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.

Halaman:

Editor: Budi Purnomo

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X