RUU KHUP Persoalan Santet Antara Ada dan Tiada, Ini Saran Prof Faisal Santiago Tentang Pasal Ini

- 23 Juni 2021, 14:10 WIB
Prof. Dr. H. Faisal Santiago.
Prof. Dr. H. Faisal Santiago. /Dok. borobudur.ac.id

HALLO BOGOR - Posisinya antara ada dan tiada, sehingga masih masih membutuhkan perdebatan dan pemikiran panjang untuk memasukkan pasal santet ke dalam Rancangan Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP).

Demikian penjelasan guru besar hukum universitas Borobudur (Unbor) Jakarta, Prof. Dr. H. Faisal Santiago, S.H., M.H. di Semarang, Rabu 23 Juni 2021.

"Meski santet antara ada dan tiada, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat hal ini kadang kala terjadi," jawab Fasisal.

Baca Juga: Univeritas Oxford Inggris Uji Laboratorium Manfaat Ivermectin untuk Obati Covid-19, Ternyata Begini Hasilnya

Prof. Faisal menjelaskan soal santet itu terkait dengan draf Pasal 251 RUU KUHP.

Disebutkan rumusan di dalam RUU KHUP tentang santet sebagai berikut:

"Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan, memberikan harapan, menawarkan, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, atau penderitaan mental atau fisik seseorang dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV (Rp200 juta)."

Baca Juga: Unggul 1-0 Inggris dan Ceko Pasti Masuk Babak 16 Besar, Saat Tanding Laga Penutup Grup D

Akan tetapi, kata dia, bila merujuk pada teori responsif, maka sebaiknya dimasukkan. Jika nanti kasus-kasus itu terjadi dalam masyarakat, maka sudah sudah ada pasal rujukan yang mengaturnya.

Halaman:

Editor: Banny Rachman

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X