Sri Mulyani Ungkap Alasan Indonesia Dapat Utang Rp15 T dari Australia

- 14 November 2020, 21:21 WIB
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. /Instagram.com/@smindrawati

HALLO BOGOR – Pemerintah Australia berikan pinjaman sebesar 1,5 miliar dolar Australia atau sekitar Rp15,4 triliun guna membantu Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19.

Pinjaman tersebut diberikan Australia kepada Indonesia dengan tenor 15 tahun.

“Kami sangat mengapresiasi dukungan Pemerintah Australia yang memberikan pinjaman senilai Rp15,4 triliun kepada Indonesia, karena ini sangat berarti demi menjaga keamanan dan kesinambungan rentang fiskal kami,” ungkap Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati, dikutip Hallobogor.com dari Pikiran-Rakyat.com.

Sri Mulyani menyatakan, bahwa pinjaman dari pemerintah Australia itu dapat membantu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen fiskal. Apalagi saat ini APBN sedang sangat tertekan hingga terjadi pelebaran defisit sebesar 6,34 persen.

Pinjaman tersebut akan langsung digunakan untuk mengatasi dampak pandemi dari beberapa sektor, mulai dari sektor kesehatan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dunia usaha, hingga masyarakat dengan melalui perlindungan sosial.

Sri Mulyani juga menambahkan, dengan adanya pinjaman tersebut menunjukkan bahwa persahabatan serta kemitraan antara Indonesia dan Australia sangat kuat. Sehingga, kedua negara dapat saling memberikan dukungan untuk keluar dari masa krisis kesehatan.

“Kita berdua memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk memulihkan dan memperkuat. Karena kita tidak bisa sembuh sendiri dengan pandemi Covid-19 ini,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg menyatakan bahwa pinjaman tersebut mencerminkan masa-masa krisis kesehatan yang harus dihadapi bersama, sehingga pemulihan dapat terjadi di kedua negara.

“Di masa yang penuh tantangan ini, kekuatan hubungan antara Australia dan Indonesia menjadi lebih penting dari sebelumnya. Hubungan ini lebih dari sekedar perdagangan dan ekonomi,” jelasnya. ***

Halaman:

Editor: Timothy Alden

Sumber: Pikiran Rakyat


Tags

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X