Likuiditas Meningkat 2 Kali Lipat tapi Perbankan Kesulitan Salurkan Kredit, Ini Masalahnya

- 3 Maret 2021, 10:23 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. /Instagram.com/@wimboh.ojk

HALLO BOGOR - Berdasarkan data Itoritas Jasa Keuangan (OJK), pada 17 Februari 2021, likuiditas perbankan meningkat hampir dua kali lipat menjadi Rp2.219 triliun dari sebelumnya per Januari 2020 sebesar Rp1.241 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso menilai saat ini, perbankan kesulitan menyalurkan kredit jika tak ada permintaan, meski saat ini industri perbankan memiliki kelebihan likuiditas dua kali lipat dari kondisi normal.

"Anda bisa lihat LDR perbankan 82 persen, yang berarti ada banyak likuiditas di bank saat ini," ujar Wimboh dalam Group Forum di Jakarta, Selasa, 2 Maret 2021.

Baca Juga: OJK Minta Industri Perbankan Percepat Penyaluran Kredit, Begini Alasannya

"Tapi jika uang ada namun permintaan tidak ada, saya yakin sangat sulit bagi bank untuk memberikan kredit ke masyarakat," imbuhnya.

Baca Juga: OJK dan Industri Keuangan Tetap Beroperasi, Meski PSBB Jawa dan Bali Diperketat

Wimboh menuturkan, kelebihan likuiditas tersebut terjadi karena Bank Indonesia menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi perbankan dan pemerintah juga memberikan stimulus fiskal.

Baca Juga: Dukung UKM yang Belum Bankable, OJK Luncurkan Securities Crowdfunding

"Kita tidak memiliki masalah likuiditas. Itu semua by design, bukan by change. Pada tahun 2020 pemerintah juga menempatkan uangnya di sektor perbankan sekitar Rp66 triliun sebagai deposit money di bank."

Halaman:

Editor: Banny Rachman

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X